Mimpi di negeri orang

23 06 2011

Bertahun-tahun kerja cuma cukup untuk makan sehari-hari. Kebutuhan terus meningkat sementara penghasilan jalan ditempat. Sementara umur juga terus bertambah. Kalau pun cari pekerjaan baru paling-paling gajinya tidak jauh berbeda. Apakah selamanya harus mengencangkan ikat pinggang dan hidup prihatin. Sedih rasanya.

Salah satu jalan yang mungkin ditempuh adalah bermigrasi ke luar negeri. Konon bekerja di negara orang penghasilannya berlipat-lipat jauh lebih besar dari pada di negeri sendiri. Sekilas terdengar sangat menggiurkan. Meski jauh dari sanak-saudara yang penting bisa hidup lebih baik. Begitu impiannya.

Sudah 2 minggu ini ide untuk bekerja di luar negeri berkecamuk dalam pikiranku.

“Aku harus cari informasi sebanyak-banyaknya soal ini,” pikirku.

Maka mulailah aku berburu informasi melalui internet. Ternyata memang banyak informasi seputar bekerja di luar Indonesia. Ada sebagian informasi lowongan dari agen-agen penyalur tenaga kerja yang tak jelas kebenarannya. Hampir semuanya mengharuskan si pelamar membayar sejumlah uang ke agen penyalur agar bisa berangkat dan bekerja di luar negeri.

“Buang uang untuk cari uang.”

Lalu aku juga mendapat informasi mengenai pengalaman para perantau di luar negeri. Sebagian besar berisi cerita perjuangan yang tidak mudah sampai bisa mendapatkan pekerjaan. Ada juga yang bertahun-tahun tetap menjadi pekerja gelap. Berjudi dengan nasib baik.





Kritik Jalanan

22 06 2011

Pada suatu hari yang cerah saya melintas di daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Saat lalu lintas sedikit tersendat, tanpa sengaja saya melihat tulisan yang menarik perhatian saya. “One Nation Under Corruption”, begitu tulisan yang tertera di tembok sebuah rumah yang saya lewati. Saya pun tersenyum pahit membacanya.

Lain halnya dengan tulisan yang hampir setiap hari saya baca ketika melintasi daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di tembok bercat putih milik sebuah kantor, terdapat sebuah tulisan yang dibuat memakai cat semprot. Bunyinya “1 orang 1 mobil, gimana nggak macet”. Satu hal yang pasti, setiap hari kemacetan di daerah tersebut merupakan hal yang tak terhindarkan lagi.

Mungkin tak terhitung berapa banyak ‘kritik jalanan’ bertebaran di seantero kota kita ini. Tapi yang jelas bagiku itu merupakan sebuah kenyataan yang sangat memprihatinkan tentunya. Ironi kebebasan berpendapat dan cara penyampaiannya yang kebablasan.





Dirgahayu Jakarta

22 06 2011

Hari ini Jakarta berulang tahun ke 484. Sebagai warga Jakarta, aku tentunya mengucapkan selamat dan memanjatkan syukur. Bagaimana tidak bersyukur? Sebagai ibukota negara, sudah pasti beban kota Jakarta sangatlah berat dengan berbagai kondisi dan problematika yang dihadapinya. Oleh karenanya aku menganggap suatu hal yang luar biasa ketika Jakarta bisa bertahan sampai hari ini.Diusianya yang cukup senja dan rawan, aku pikir tak perlu kita berandai-andai dan berharap macam-macam pada Jakarta. Karena belum tentu juga akan terwujud seperti tahun-tahun sebelumnya bukan? Jakarta kita adalah Jakarta yang memikul bebannya sendiri. Jadi biarlah hari ini ia beristirahat sejenak sambil menikmati kesendiriannya. Selamat ulang tahun untuk Jakarta.





Keinginan

17 06 2011

Pagi ini aku mendengar petuah seorang cerdik-pandai.

“Aku, kamu, kita semua punya masalah dalam hidup ini karena beragam keinginan yang muncul dari hati kita,” begitu katanya.

Lalu aku coba untuk menjodoh-jodohkannya dengan berbagai masalah yang sedang aku alami.

Aku masih ingat, kamu tidak mau memenuhi keinginanku untuk tinggal bersamaku di sebuah apartemen yang sudah kubeli untuk kita. Aku kecewa dan tak mau lagi bertemu denganmu. Masalah bertambah manakala aku merasa kesepian dan aku mulai ingin mengundang wanita-wanita lain untuk singgah dan menginap satu-dua hari di sana. Dalam pelukan mereka kamu pun terlupakan.

“Apa iya begitu?” Aku bertanya dalam hati.

Aku juga ingat bertahun-tahun kemudian muncul rasa rindu dan sesal. Aku ingin kamu kembali lagi. Tapi aku tahu itu tak mungkin terjadi. Berhari-hari aku mencoba merayumu untuk bisa memaafkan diriku dan kembali padaku. Berkali-kali kamu mengatakan tidak, namun justru berkali lipat keinginanku menjadi semakin kuat. Kuberikan apa pun yang kamu inginkan, asal bisa terwujud apa yang ku mau.

“What I really want from you is nothing.” Jawabmu.

Aku terhenyak. Sampai hati kamu berkata begitu. Aku pun berhenti meminta karena merasa kamu telah menyakiti hatiku. Aku semakin marah karena aku tak bisa melupakanmu.

Namun pagi ini aku tersadar bahwa sejak saat itu aku bukan lagi masalah dalam hidupmu. Sebab kamu sudah tidak lagi menginginkan apa pun dariku. Mungkin itulah mengapa segalanya menjadi lebih mudah bagimu. Berlalu dan melupakan aku.





See you again in the next life

15 06 2011

Aku tahu pasti itu kamu. Sudah beberapa lama ini aku mengawasimu. Dari gerak-gerikmu, tatapan matamu, dan gayamu yang sedikit jual mahal. Aku yakin sekali itu kamu. Sekarang aku harus cari tahu bagaimana caranya supaya kamu bisa mengerti kalau aku adalah aku.

Aku memang beruntung. Sebelumnya tak terbayangkan berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencarimu. Haruskah aku menjalani lagi kisah hidup yang penuh liku seperti sebelumnya. Jika dulu kita tidak bisa bersama, kini ku ingin kamu jadi milikku selamanya. Seperti janji kita sebelum berpisah waktu itu dan aku sangat gembira bisa menepatinya.

Hari ini adalah kesekian kalinya aku menunggumu di depan pintu rumah besar berpagar kayu ini. Hanya untuk bisa menatap ke dalam bening kedua matamu yang indah.

“Hush! Pergi sana! Kucing ini tiap hari kok bengong di depan pintu rumah kita terus.”
“Mungkin dia naksir Si Manis kali Ma..”





Permen

15 06 2011

Lepas maghrib ketika aku sampai di halte bus seberang kantor. Aku menyapu pandangan ke sekelilingku. Hanya ada tiga orang yang menunggu bus. Aku terpaksa berdiri, tak ada lagi tempat untuk duduk.

Sambil menunggu mataku tertarik mengamati seorang gadis yang duduk di sudut halte. Tidak terlalu cantik memang, tapi cukup menyegarkan mata dari pada bosan menunggu. Ia mengenakan kemeja putih dan dari caranya berpakaian tampaknya ia seorang yang cukup memperhatikan penampilan. Telinganya tersumpal earphone. Mengatasi bosan dengan mendengarkan lagu.

Tak jauh dari halte ada seorang ibu menggendong anak kecil. Pakaian keduanya kotor dan lusuh. Anak itu menangis sambil meronta-ronta dalam gedongan si ibu, yang menurut dugaanku bukan ibu kandungnya. Bukan rahasia kalau anak-anak kecil yang sering diajak mengemis adalah anak-anak sewaan. Bisa jadi penyewanya pun tidak tahu berapa usia si anak. Yang penting bisa untuk cari uang.

Anak kecil itu tak mau berhenti menangis, si ibu berulang kali menutup mulut si anak sambil menghardiknya supaya diam. Tentu saja si anak malah makin meronta-ronta, berusaha melepaskan tangan yang mencoba menutupi suara tangisnya. Si ibu terlihat mulai tak sabar. Ia mengayun-ayun tubuh si anak dengan kasar. Tangisan si anak makin menjadi.

Saat semua orang hanya terpaku, tiba-tiba gadis berkemeja putih yang tadi aku amat-amati, berjalan menghampiri si ibu yang terus berupaya menghentikan tangis si anak kecil.

“Bu, mungkin si adik haus,” katanya sambil menyerahkan selembar uang.

“Makasih neng,” jawab si ibu.

Gadis itu kembali ke tempatnya duduk. Dimasukkannya lagi earphone ke telinganya. Si ibu berjalan sedikit menjauh dari halte. Aku pikir ia akan membeli sesuatu di warung yang berada tak jauh dari halte. Namun dugaanku salah. Si ibu tetap mengguncang-guncang tubuh si anak. Memaksanya untuk diam.

Beberapa saat mataku kembali tertarik mengamati si gadis berkemeja putih. Ternyata ia juga masih mengamati tingkah laku si ibu dan anak kecil tadi. Sekilas ada raut kasihan di wajahnya yang putih mulus. Sepertinya ia tidak sampai hati melihat si anak tak kunjung berhenti menangis. Gadis berkemeja putih itu lalu membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, ia kembali mendatangi si ibu.

Tak jelas apa yang diucapkannya pada si ibu. Aku melihat ia memegang sesuatu dan memberikannya pada si anak kecil. Permen. Sebutir permen. Aku melihatnya ketika si gadis berkemeja putih membukakan bungkus permen untuk si anak.

Sambil berjalan kembali ke arah halte, beberapa kali si gadis menoleh ke arah si anak yang kini sudah berhenti menangis. Samar aku lihat bibirnya membentuk senyum tipis. Sambil mengunyah permen gadis berkemeja putih menampakkan tatapan menerawang.

“Belum pernah ada permen seenak ini,” begitu mungkin yang dipikirkannya.





Body worshipper

14 06 2011

“Menurut kamu aku cantik nggak?”

“Biasa.”

“Masa sih? Kalau kamu papasan denganku waktu jalan di mal kamu akan menoleh nggak?”

“Pastinya, kan aku kenal kamu.”

“Maksudku kalau kamu nggak kenal aku.”

“Ya nggak lah kalau nggak kenal.”

Tuh, benarkan ternyata aku nggak menarik buat laki-laki. Aku biasa-biasa saja.

“Ngapain sih nanya kaya gitu?”

“Aku sebel karena aku nggak menarik. ”

“Yang benar tuh kamu terlalu banyak dugem dan kamu mulai merasakan salah satu dampaknya.”

Aku ingat perbincangan itu. Tapi apa salahnya kalau sering dugem?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.