Lepas maghrib ketika aku sampai di halte bus seberang kantor. Aku menyapu pandangan ke sekelilingku. Hanya ada tiga orang yang menunggu bus. Aku terpaksa berdiri, tak ada lagi tempat untuk duduk.
Sambil menunggu mataku tertarik mengamati seorang gadis yang duduk di sudut halte. Tidak terlalu cantik memang, tapi cukup menyegarkan mata dari pada bosan menunggu. Ia mengenakan kemeja putih dan dari caranya berpakaian tampaknya ia seorang yang cukup memperhatikan penampilan. Telinganya tersumpal earphone. Mengatasi bosan dengan mendengarkan lagu.
Tak jauh dari halte ada seorang ibu menggendong anak kecil. Pakaian keduanya kotor dan lusuh. Anak itu menangis sambil meronta-ronta dalam gedongan si ibu, yang menurut dugaanku bukan ibu kandungnya. Bukan rahasia kalau anak-anak kecil yang sering diajak mengemis adalah anak-anak sewaan. Bisa jadi penyewanya pun tidak tahu berapa usia si anak. Yang penting bisa untuk cari uang.
Anak kecil itu tak mau berhenti menangis, si ibu berulang kali menutup mulut si anak sambil menghardiknya supaya diam. Tentu saja si anak malah makin meronta-ronta, berusaha melepaskan tangan yang mencoba menutupi suara tangisnya. Si ibu terlihat mulai tak sabar. Ia mengayun-ayun tubuh si anak dengan kasar. Tangisan si anak makin menjadi.
Saat semua orang hanya terpaku, tiba-tiba gadis berkemeja putih yang tadi aku amat-amati, berjalan menghampiri si ibu yang terus berupaya menghentikan tangis si anak kecil.
“Bu, mungkin si adik haus,” katanya sambil menyerahkan selembar uang.
“Makasih neng,” jawab si ibu.
Gadis itu kembali ke tempatnya duduk. Dimasukkannya lagi earphone ke telinganya. Si ibu berjalan sedikit menjauh dari halte. Aku pikir ia akan membeli sesuatu di warung yang berada tak jauh dari halte. Namun dugaanku salah. Si ibu tetap mengguncang-guncang tubuh si anak. Memaksanya untuk diam.
Beberapa saat mataku kembali tertarik mengamati si gadis berkemeja putih. Ternyata ia juga masih mengamati tingkah laku si ibu dan anak kecil tadi. Sekilas ada raut kasihan di wajahnya yang putih mulus. Sepertinya ia tidak sampai hati melihat si anak tak kunjung berhenti menangis. Gadis berkemeja putih itu lalu membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, ia kembali mendatangi si ibu.
Tak jelas apa yang diucapkannya pada si ibu. Aku melihat ia memegang sesuatu dan memberikannya pada si anak kecil. Permen. Sebutir permen. Aku melihatnya ketika si gadis berkemeja putih membukakan bungkus permen untuk si anak.
Sambil berjalan kembali ke arah halte, beberapa kali si gadis menoleh ke arah si anak yang kini sudah berhenti menangis. Samar aku lihat bibirnya membentuk senyum tipis. Sambil mengunyah permen gadis berkemeja putih menampakkan tatapan menerawang.
“Belum pernah ada permen seenak ini,” begitu mungkin yang dipikirkannya.